Senin, 23 Maret 2015

Cangkuang Moksa

Oleh: Ridwan Munawwar Galuhwiraksa

 

Waktu beranjak ke sareupna. Sandikala serupa hantu. Lembayung telah pergi. Langit makin gelap, hutan makin gelap. Gerimis gemericik membasahi tanah perbukitan Kawali yang merah.

Pasukan Puragabaya berteduh di saung darurat, sebagian lainnya berteduh di bawah pepohonan yang rimbun-rindang. Walau gerimis membasahi badan, walau wadya balad memanggil-manggilnya untuk berteduh, Ki Galuh Ridwan tetap tak beranjak, ia berdiri di bibir bukit, asik dengan pikirannya sendiri. Pemandangan alam luas sejauh mata memandang.

Pandangan Ki Galuh Ridwan nampak kosong dan nanar, nun jauh di lebak, terlihat kampung halamannya; Kawalimukti. Lampu-obor terang benderang memenuhi kuta, terlihat dari jauh seperti kunang-kunang di tengah jelaga. Ingatannya bertumbuk pada ucapan saudara kembarnya, Ki Galuh Purwajati;

“Selam?! beraninya kau. Mana kesetiaanmu pada karuhun, pada arwah indung-bapa? pada pusaka Jatisunda?!!” matanya menyala tajam, bagai sisi hitam dari api.

Ia hanya terdiam, bibirnya terkatup rapat. Hatinya sesak, penuh oleh rasa yang susah terucap.

Itulah awalnya, ia berpisah rumah pisah mandala dengan saudara sedarahnya sendiri. Ia menjadi kapten laskar infanteri Puragabaya, sedangkan kakaknya menjadi panglima pasukan Jatisunda.

Kini perang geusan prung, kurusetra telah terhampar. Perang sabung nyawa antar sesama urang Sunda, antara mereka yang memeluk agama yang dibawa orang Arab, Selam dengan mereka yang teguh pada ajaran pusaka Jatisunda.

Galuh Ridwan menghela nafas, berat dan dalam. Dadanya terasa semakin sesak dan sempit. Hujan telah deras, seluruh badannya basah kuyup, namun ia tetap pengkuh tak beranjak dari tempatnya berdiri.

Dari arah belakang, tergopoh datang menghampiri Ki Rantepao Larasmaya, sang juru pakarang yang asli kelahiran pulau Celebes, tana Toraja.

“Punten, Nun...mari kita bersantap dulu, hidangan telah tersedia. Mangga dihaturanan”, ujarnya sambil memayungi Ki Galuh Ridwan dengan sebatang daun pisang yang lebar.

Di saung, wadya balad Puragabaya sedang ramai bersantap ria; ada nasi beras merah yang pulen dan wangi, petai hutan yang montok, panggang uncal yang hangat, tak tertinggal sambal terasi yang mengundang selera. Dasar lantaran pikiran sedang kusut, Galuh Ridwan hilang nafsu makan, hanya sesuap dua-suap yang didapat.

Kira-kira waktu menginjak sareureuh budak, hujan parat. Pasukan Puragabaya yang berjumlah lebih dari 300 orang, beranjak bangkit berbaris. Lapangan tengah bukit yang lumayan luas kini bagaikan lautan manusia berbaju dan berikat kepala putih. Sebelum pasukan berangkat, Ki Galuh Ridwan memberi pidato singkat agar semangat pasukan makin berkobar. Wanci tumorek, pasukan berangkat menuju Tegal Cangkuang, yang tiada lain di sanalah markas utama pasukan Jatisunda yang dipimpin Raden Cakra Adiwisesa berada.

Dalam fikirnya, kalau pasukan dibawa melintas bukit, tentu akan lebih cepat sampai ke medan sasaran, selain itu, tidak akan tercium oleh pihak musuh. Bila nanti telah sampai ke tapal batas, ke daratan di ujung perbukitan, sudah menunggu pasukan kavaleri Puragabaya yang dipimpin oleh Ki Sumar Yusmarpati dari Majalengka.

Ki Galuh Ridwan berjalan paling depan. Di pinggang terselempang pedang panjang dari besi-baja Cilegon tempaan empu panday dari Soreang. Pada ikatan sabuk, terselip kujang baja pusaka.

Sepanjang jalan menyusuri gawir bukit, hatinya ramai berdzikir, namun ingatannya kumalayang, terbang tak tentu arah. Ingatannya tertumbuk pada dia yang cantik, nu geulis, kembang desa Singandaru, inten bebende hate, sang permata hati, Dyang Wulan Ratnaningsih.

“Yeuh, hati Nyai cuman untuk Aka. Nyai lebih memilih Aka ketimbang Kang Galuh Purwajati. Tapi Selam?! Selam, Aka? hantu apa yang telah merasuk ke dalam dirimu?!” matanya yang indah bagaikan embun setetes ngadilak, wajahnya yang manis cantik-menik merona merah oleh amarah, rambutnya yang hitam lebat disanggul kenes, dalam marahnya ia tetap cantik, lebih cantik malah. Banyak sudah jejaka yang terpaut-terpagut hati oleh dirinya, yang melamar ingin menikahi ramai berdatangan dari setiap juru kampung, estu semuanya ditolak-ditampik, karena  sang gadis permata lebih memilih dirinya. Tapi, jika benar ia yang terpilih oleh Dewa Asmarandana, kenapa lantas sang raka, kakaknya tetap membayangi, bagai hantu masa lalu yang selalu mengintai hati....

Untuk kesekian kalinya ia menghela nafas dalam, ingat bahwa sang gadis permata kini hilang tanpa kabar. Duh, nu geulis Ratnaningsih, dimanakah engkau kini...

Nafasnya bertambah berat dan dalam.

***

Tidak ada kesulitan bagi pasukan Puragabaya merebut markas musuh, hanya memakan waktu setengah jam kurang lebih. Tapi, justru itu yang menimbulkan kecurigaan Galuh Ridwan dan rekan-rekannya;

 “Cuma 40 orang prajurit bebenjit! di mana cecunguk-cecunguk itu bersembunyi!” ujar Ki Rantepao Larasmaya dengan suara menggelegar.

Ki Galuh Ridwan waspada permana tiga, namun ia tetap tenang dan mempersiapkan pasukan untuk melaksanakan kewajiban shalat Subuh.  Belum tuntas rakaat shalat, dari arah belakang terdengar seorang prajurit berteriak nyaring,

 “Musuh datang! Musuh datang!”

Pasukan Puragabaya yang kaget, serentak berseliweran bangkit berbalik, menghunus senjata masing-masing. Namun Ki Galuh Ridwan beserta sebagian jama’ah pasukan, tetap tenang dan menuntaskan shalat. 

Di lapang tegal Cangkuang, pasukan Raden Adiwisesa telah pepeg berjajar. Walau terhalang halimun pagi, samar terlihat panji-panji pasukan itu; bendera hijau dengan gambar kujang emas menyilang.

Pasukan Puragabaya kembali menyusun barisan. Siap siaga meghadapi pasukan musuh yang menantang di depan. Ki Galuh Ridwan memperkirakan dalam hitungan kasar, pasukan musuh kisaran 400 orang lebih. Jumlah yang seimbang. 300 lawan 400 mah tidak akan jirih sedikit jua, pendekar-pendekar Puragabaya tidaka akan kalah tinggi dalam ilmu silat. Cuma yang ia heran adalah kenapa kakaknya tidak terlihat.

Dua pasukan saling berhadapan, cuma terpisah jarak seratus tombak. Seakan sudah saling mengerti, tidak akan bermain panah atau bermain lempar tombak, perang ini bakal diselesaikan sebagaimana pantasnya jajaten laki-laki; saling berhadapan silih ala pati, mengadu tinju mengadu pedang. 

Dua pasukan telah bentrok beradu. Lir ibarat dua baris ombak yang saling memecahkan. Laskar Puragabaya dengan tegap memainkan pedang panjang, sebaliknya pasukan Raden Adiwisesa tegap memainkan bedog panjang dan kujang pedang. Darah manusia cur-cor, tertumpah banjir darah membasahi tanah Pasundan. Sebit kulit poncrot getih, dari dua belah pihak korban-korban berjatuhan laiknya pohon pisang yang tumbang. Prajurit lawan prajurit, jajadug lawan jajadug. 

Semakin lama makin terlihat pasukan mana yang unggul; sudah empat orang jajadug pasukan Adiwisesa yang perlaya, sementara pasukan Puragabaya cuma kehilangan seorang jajadug: Ki Ahung Rajadesa. Pasukan Adiwisesa makin terdesak, namun ternyata untuk memetik leher pimpinannya tidak mudah sama sekali, Raden Adiwisesa lincah-licin bagaikan belut. Pasukan Adiwisesa terdesak hingga ke tepi hutan, tinggal menunggu habis terbabat pedang Puragabaya.

Tak disangka tak dinyana, dari balik hutan, tiba-tiba terdengar suara teriakan bergemuruh, handaruan maratan langit. Bumi bergetar bagaikan gempa. Dari balik deretan pepohonan hutan yang masih berselimut kabut, jlung jleng pasukan Sunda Buhun  yang berikat kepala biru, jumlahnya banyak tidak terhitung. Pasukan Puragabaya bagaikan tersambar petir, para jajadug ngorejat kaget, cuma Galuh Ridwan yang tetap tenang pengkuh; hal ini sudah ia perkirakan sebelumnya.

Dengan cepat Ki Galuh Ridwan ngawatek aji, merambat angin, merelung halimun, memanggil pasukan kavaleri yang bersembunyi di tonggoh bukit sebelah kiri.

Pasukan Puragabaya mulai berjatuhan tertabrak gulungan barisan pasukan Buhun yang melaju cepat, bagai ombak besar memakan ombak kecil. Ki Galuh Ridwan khusyuk mengadu pedang dengan jawara-jawara Buhun yang berpostur pendek kekar, hatinya tidak sabar akan datangnya pasukan bantuan

Tidak lama kemudian, pasukan kavaleri pimpinan Ki Sumar datang, balas menampar menghantam pasukan Buhun dari arah samping. Beberapa antara, keadaan nampak seimbang, tapi pasukan Buhun bukan pasukan anak kemarin sore, pasukan kavaleri mulai terbabat satu-persatu. Selain itu, Puragabaya tetap kalah jumlah.

Melihat sepak terjang jawara-jawara Buhun, estuning membuat ngeri merinding. Ilmu-ilmu silat langka yang selama ini cuman mitos, kini terlihat jelas nyata; silat cabut tulang, dan semacamnya.

Pandangan Galuh Ridwan tertumbuk pada sesosok manusia yang tengah mengamuk membabati pasukan kavaleri. Tidak lain lagi itu adalah saudara kembarnya. Sontak hatinya panas membara, dengan langkah tandas ia memburu menghampiri, namun saudaranya malah meloncat menjauhi seraya berkata;

“Kita selesaikan di atas, Yi” katanya sambil meloncat lagi menuju hutan rimbun.

Ki Galuh Ridwan baluweng fikiran, rasa khawatir menjalari hati. Terlihat jelas pasukannya telah terdesak. Pasukan kavaleri dan infanteri terdesak oleh deretan tombak kujang Buhun sampai berjatuhan ke danau. Situ Cangkuang merah oleh darah manusia-manusia satria yang perlaya-palastra.

Ki Galuh Ridwan melirik ke Ki Sumar yang masih duduk tegap di atas kuda. Yang ditatap balas menatap. Dua-duanya sudah saling tau kalau sudah nasib bakal ngababatang di hamparan medan perang.

 “Yang penting nyawa Adiwisesa...” suaranya pelan hampir tak terdengar

Ki Sumar menatap lama, terus mengerti,

“Serahkan padaku. Susul”

Ki Galuh Ridwan melempar tatap bergantian para jajadug dan sisa pasukannya yang masih bernyawa, lalu mengangguk penuh. Ia menarik nafas panjang, meloncat bagai terbang menuju bukit, memburu saudaranya.

Jleg kakinya menapak di tanah bukit. Dari balik rimbun dedaunan, terlihat olehnya saudara kembarnya diikuti oleh beberapa orang tengah berlari di jalan setapak menuju Candi Cangkuang yang berada di puncak bukit. Matanya tertumbuk pada sosok perempuan yang tengah berlari di samping kakaknya, ia hafal betul; Dyah Ratnaningsih.

Hatinya makin terbakar, tubuhnya bergetar oleh amarah, pikirannya semakin sesak oleh rasa penasaran, dengan berlari ia memburu.

Di depan Candi Cangkuang yang sunyi dan agung, kini mereka saling berhadapan. Ki Galuh Ridwan menatap tajam pada saudaranya, lalu pada Dyah Ratnaningsih yang balas menatapnya sambil tersenyum, manis dan penuh misteri. Galuh Ridwan ingin berteriak, ingin memaki memuntahkan amarah, tapi lidahnya liat bak terkunci di rongga mulut, yang lain pun nampaknya tak jauh beda. Tak ada sapa, tak ada suara, tak satu patah kata jua. Di bawah, suara jerit peperangan masih samar terdengar.

Tiba-tiba Dyah Ratnaningsih membuka ucap, suaranya tajam menghunjam. Rentetan kalimah yang tidak ia mengerti; mantra petuah karuhun yang sudah ia lupakan. Selepas tuntas mantra terucap, tiba-tiba Candi Cangkuang yang agreng beserta Galuh Purwajati, Dyah Ratnaningsih dan yang lainnya menghilang. Hilang ngiles bagai tertelan bumi!

Galuh Ridwan gemetar, air matanya meleleh entah kenapa, pikiraannya serasa dicabut dari jisim, sukma-jiwa serasa melayang entah ke mana. Sebelum raga tumbang ke pangkuan bumi, terasa olehnya, kujang pusaka yang terselip di pinggang, panas, menyala.





Jogja, 17 Desember 2013, wanci lingsir wengi, 00:00 WIB.



Glosarium/Kosa Kata:

Sareupna = titi mangsa Sunda, yakni waktu maghrib/matahari terbenam.

Sandikala = sareupna

Saung = dangau

Lebak = dataran rendah di bawah bukit

karuhun = leluhur

indung-bapa = ibu-bapak

mandala = tempat

geusan prung = sudah dimulai/terjadi

pengkuh = tegar, teguh

juru pakarang = petugas yang menangani senjata

Punten, Nun = Permisi, Nun (sebutan untuk petinggi)

Mangga, dihaturanan = dipersilahkan (dengan hormat)

uncal = kancil, kijang

sareureuh budak = jam 7 malam

wanci tumorek = jam 9 malam

gawir = pematang

kumalayang = terbang, melayang

nu geulis = yang cantik

inten bebende hate = kekasih hati

yeuh = nih, ini

Aka = panggilan untuk laki-laki yang lebih tua

Ayi, Yi = panggilan untuk orang yang lebih muda

ngadilak = melirik dengan mata sedikit melotot

estu/estuning = jelas, pasti, otomatis

bebenjit = anak kecil

waspada permana tiga = siap siaga, waspada

halimun = kabut

pepeg =  berdiri tegap, berderet

jajaten = harga diri, kejantanan

bedog =  golok

silih ala pati = saling mengambil nyawa

cur-cor = istilah untuk sesuatu yang mengalir

sebit kulit poncrot getih = kulit terkelupas, darah tersembur

jajadug = gembong, pendekar terbaik dari pasukan

handaruan maratan langit = menggelegar sampai ke langit

ngorejat = bergerak tiba-tiba karena kaget

ngawatek aji = merapal ajian

tonggoh = bagian atas/lebih tinggi dari sebuah daratan

jawara = pendekar

baluweng = kusut fikiran

ngababatang = menjadi mayat, mati

ngiles = menghilang

perlaya, palastra = gugur

agreng = megah



*) Ridwan Munawwar Galuhwiraksa, lahir di Kuningan. Bergiat di Komunitas Budaya Sakra.
(tayang di Pikiran Rakyat, 12 Januari 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar