Senin, 23 Maret 2015

Batu Candi Pamungkas

Oleh: Ridwan Munawwar Galuhwiraksa

Malam kian pekat, kian bergerak ke titik lingsir. Tapi Ki Gondewo masih terjaga dalam lamunan panjang meski angin malam makin memebekukan. Rekannya sesama empu pemahat telah pulang ke rumahnya masing-masing, sebagiannya lagi beserta murid-muridnya ada yang tidur menginap di dalam saung joglo tempat pemahatan. Ki Gondewo tetap tidak bisa memejamkan mata, belum lagi beratnya fikiran yang seperti selalu menyuruhnya terjaga.



Ingatannya terantuk pada anak istrinya. Ki Gondewo mengucap syukur pada Sang Hyang, bahwa rekan-rekannya sesama empu masih bisa bertemu dengan anak-istrinya. Tidak seperti anak-istrinya sendiri yang sudah sekian lama berpisah dengannya; mengungsi dari kampung sendiri, mencari suaka untuk menitipkan nyawa. Bagaimana tidak, di Mataram ini terlalu banyak mala yang menimpa mereka. Ada kabar sampai padanya, bahwa kini anak-istrinya berada di Indraprahasta di bumi bagian barat sana, disuaka oleh Rajanya yang terkenal suka melindungi. Namun kabar lain mengatakan bahwa anak-istrinya sudah menyebrang nusa menuju Kerajaan Kandis Baru. Kabar burung memang selalu membingungkan. Ki Gondewo hanya bisa pasrah-sumerah pada Hyang Maha Kuasa.



Sambil terlarut dalam lamunan, tangannya asyik mengelus arca-arca batu yang baru setengah jadi. Ada rasa menggelora setiap kali telapak tangannya menempel pada arca-arca batu itu. Sebagian memang hasil pahatan muridnya, namun sebagian besar adalah hasil pahatan tangannya sendiri. Keahlian memahat ini sudah terwariskan dalam urat darahnya. Keahlian memahat yang menitis dari kakek dan bapaknya ini nyata telah memberinya posisi sosial yang dimuliakan oleh masyarakat. Dulu, leluhurnya adalah pemahat ahli di kerajaan, yang sangat dipercaya oleh Prabu Sanjaya sendiri.

Ki Gondewo menghela nafas panjang; dalam dan berat. Kira-kira dua ratus depa ke sebelah utara, candi agung Prambanan berdiri kokoh menantang malam. Sunyat dan agung. Sekalipun terselimuti gelap malam, masih terasa kemegahannya, apalagi bila di siang hari. Candi Prambanan ini tiada lain hasil buah fikir buyut-bao sepuhnya sendiri. Karena keahlian buyut baonya sebagai ahli candi, bukan saja sanjungan Prabu Sanjaya yang didapat, melainkan juga pamor dan citra yang besar dari masyarakat mancanegara. Para ahli arsitek dari Cina, India, Mongolia, sampaipun dari negeri atas angin, semuanya berdatangan ke tanah Mataram dengan berniat berguru.  Candi Prambanan menjadi buah bibir masyarakat dunia, keindahan dan keunikan cara membangunnya telah membuat semua orang terperangah. Dulu.



Ia menghela nafas kembali, merasakan hawa malam yang menusuk tulang. Desau hawa yang sepertinya membawa pesan akan robahnya zaman. Sejak tampuk kerajaan berpindah ke tangan dinasti Syailendra, tak pelak keadaan masyarakat Mataram pun mengalami banyak perubahan. Atau sebaliknya, perubahan pada masyarakat Mataram ini mengakibatkan perpindahan dinasti pada alur tampuk kerajaan. Nampaknya suatu hal yang tidak mengandung perbedaan berarti.



Yang pasti, keadaan memang berubah; kini telah tersebar agama baru yang disebarkan oleh para pendeta dari barat yang tertahbiskan sebagai pengamal ajaran Siddartha Gautama. Adapun Wangsa Syailendra dan kalangan panatanagara di dalamnya telah menganut agama baru ini, malahan Prabu Samaratungga, yang kini berkuasa, sudah menganut agama ini dari sejak ia belia.

Walaupun termasuk pengikut agama baru,  Raja Samaratungga termasuk raja yang bijaksana, ia tidak melarang agama luar masuk ke Mataram, tapi juga tidak memaksa rakyatnya untuk memeluk agama baru ini. Rakyat Mataram yang ingin setia menganut agama lama, ia persilahkan dengan diberinya tempat di tempat lama, yakni di bagian selatan negeri dengan purwacandi sebagai pusatnya, yakni Candi Prambanan. Adapun yang ingin dan telah menganut agama baru, telah diberi tempat di bagian utara negeri, pusatnya tidak lain adalah Candi Borobudur yang kini masih dalam proses pembangunan. Itulah keputusan yang bijaksana dari Raja.



Namun sebagaimana halnya sejarah di bagian-bagian yang lain, kenyataan akan berbicara sebaliknya; meskipun keputusan raja telah sedemikian adil, pada kenyataannya perang selalu terjadi antara mereka yang setia pada agama lama dengan mereka para penganut agama baru. Entah karena alasan apa. Nyawa loba nu kaala, jalmi loba nu nemahan pati.



Ki Gondewo masih ingat betul, belum berapa lama ini, di sebuah tegal yang tidak jauh dari kampung tempatnya bermukim, perang itu benar-benar terjadi. Dua golongan satu leluhur berperang, beradu pakarang, beradu golok dan pedang. Entah siapa yang berada di balik semua ini. Di depan candi-candi yang suci, darah manusia tumpah membasahi bumi. Jasad-jasad tertumbangan di mana-mana, tidak tertinggal jasad  paman, ayah, ibu dan sebagian besar anggota keluarganya Ki Gondewo.  



Ki Gondewo hanya bisa menghela nafas berat bila ingat kejadian itu. Pikiran dan hatinya berontak; perang bukanlah budaya, bahkan sangat jauh dari nilai-nilai agama yang manapun. Sebab bukankah agama sejatinya adalah jalan untuk manusia menemukan kebenaran, keadilan, dan kasatyagrahaan; bisa hidup damai dengan sesama manusia, dengan alam, dan dengan sesama mahluk Sang Hyang lainnya.

Melihat perang semakin berkobar, Ki Gondewo tidak tinggal, ia sendirian menghadap ke Prabu Samaratungga untuk menjelaskan keadaan yang terjadi, sebab oleh kalangan militer terlalu banyak hal yang diputar-balikkan. Sang Nalendra tidak menunda-nunda lagi, ia segera menurunkan pasukan pribadi kepercayaannya untuk mengamankan wilayah pemukiman masyarakat yang setia pada agama lama.

Kini semakin banyak yang memusuhi Ki Gondewo, terutama kalangan pangagung wadya balad kerahaan yang merasa terlangkahi oleh tindakan-tindakan Ki Gondewo. Akhirnya banyak fitnah bertebaran dan Ki Gondewo menjadi kebencian masyarakat, dan entah gimana awalnya bahkan ada isu yang menyebutkan bahwa Ki Gondewo-lah yang justru telah mengadu-bagongkan masyarakat.



Hanya sebagian kecil masyarakat yang masih percaya pada Ki Gondewo, terutama mereka yang tau siapa trah keluarganya, dan bagaimana sejarah trah keluarga Gondewo. Untungnya, Ki Gondewo pun bukan orang sembarangan, ia baik budi baik bahasa, suka menolong pada yang melolong, dan membantu pada yang sedang buntu. Silih asih dengan sesama manusia.



Ki Gondewo berkata dalam hati; aku membangun paguron tempat belajar mahat ini pun tidak meminta pada siapapun, semuanya kukerjakan dengan tangan dan hasil keringatku sendiri.

Dalam menghadapi orang-orang yang sirik-pidik pada dirinya, Ki Gondewo tidak sedikitpun gentar, yang menghina dibalas senyuman, yang melecehkan dibalas oleh sikap yang tegas. Untuk apa aku ragu pada diriku sendiri, terpengaruh oleh orang-orang bodoh yang buta pada hakekat. Tak akan aku tukar keyakinan diri apalagi oleh ucapan dari lidah-lidah hina,tak ada alasan aku biarkan keyakinanku runtuh oleh penghinaan mereka, toh aku tak berhutang budi apapun pada para pencela itu, berhutang satu suap nasi pun tak. Demikian pendiriannya.



Murid-muridnya yang belajar di ditu tidak hanya dari kalangan penganut agama lama, namun juga dari kalangan penganut agama baru. Itu bukan lantara ia tidak laku atau apa, namun sebaliknya, semua orang di penjuru nagari (sejauh ia tau dan mengerti) tau betul bahwa Ki Gondewo-lah ahli pahat paling kampiun di seluruh negeri. Jadi bukan tanpa alasan Ki Gondewo diminta menjadi panatawangun-utama (arsitek utama) Candi Borobudur, sebab seluruh empu di tanah Mataram ini tau betul bahwa hanya Ki Gondewo satu-satunya yang menjadi juru kunci pengetahuan rahasia rancang-wangun tradisi candi di Nusantara.



Akan tetapi Ki Gondewo menolak, ia lebih suka menjadi penasihat saja—dan kemudian posisi panatawangun-utama itu jatuh pada sahabatnya sendiri yang telah masuk agama baru—sebab walaupun para ahli bahkan Sang Nalendra sendiri sangat menghormati dirinya, Ki Gondewo tetap setia pada agama lama. Ini sudah menjadi pilihan hidupnya. Dalam hal membangun Candi Borobudur sebagai sakraloka-mandala mustika agama baru, Ki Gondewo tidak bisa memenuhi keinginan Sang Nalendra, sebab baginya ada satu halangan-harungan yang tidak bisa dilanggar. Dan hal inilah yang tidak bisa ia ungkapkan pada khalayak.



Helaan nafas Ki Gondewo semakin berat dan dalam. Hembusan nafasnya seakan keluar dari fikirannya sendiri yang terlelap dalam lamunan hari kemarin. Dadanya yang berat ia tambahkan berat dengan asap tembakau. Ia menatap satu-persatu muridnya yang telah tertidur. Lagi ia menatap batu arca wukir di halaman saung joglonya. Ada yang berkelebat di benaknya. Sebentar lagi Candi Borobudur akan rampung dibangun, dan ia tidak bisa tinggal diam. Harus ada yang dilakukan. Sebelum orang-orang sirik-pidik itu semakin menumpahkan hal yang jail-kaniaya pada dirinya, ia sadar harus segera bertindak.



Dengan hampir tidak mengeluarkan suara, Ki Gondewo pergi memacu kudanya, kencang bagai jamparing lepas dari gondewa. Tujuannya jelas; ia hendak ke Candi Borobudur. Waktu pagi hampir mencapai mangsa balebat, ia telah sampai di seratus depa menuju Candi Borobudur yang suci.

Semakin dekat dan semakin dekat, Ki Gondewo meloncat setengah terbang menuju Candi. Di bagian badan candi yang baru setengah jadi, ia pasangkan batu arca wukir hasil pahatannya sendiri. Sungguh cocok dan indah terlihat. Begitu selesai, Ki Gondewo meloncat kembali, seperti hendak nyangsang di awang-awang.  



Lamat-lamat dari balik halimun pagi, orang-orang berteriak, prajurit berlarian. Tombak-pedang terhunus hendak menusuk halimun memburu kabut.

Tak jauh dari situ, di sebalik rumpun bambu, seorang resi tersenyum dalam. Air mata menetes dari matanya yang teduh seperti hawa pagi yang menyelimuti candi.





Kawali-Kuningan, Maret-Mei 2014



(dimuat di koran Pikiran Rakyat, 8 Juni 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar